Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah Hari Tanpa Bra, Porno atau untuk Kesehatan?

Pebriansyah Ariefana Selasa, 13 Oktober 2020 | 10:12 WIB

Sejarah Hari Tanpa Bra, Porno atau untuk Kesehatan?
Payudara. (Shutterstock)

Ada nama Mitchell Brown di balik itu, siapa dia?

SuaraBali.id - Hari Tanpa Bra diperingari dunia 13 Oktober hari ini. Hari Tanpa Bra ini berlangsung di tengah bulan kesadaran kanker payudara.

Sejarah Hari Tanpa Bra dimulai dari Breast Reconstruction Awareness (BRA) Day tahun 2011.

Saat itu dicetuskan dokter bedah Mitchell Brown dari Kanada.

Payudara perempuan. (shutterstock)
Payudara perempuan. (shutterstock)

Hari Tanpa Bra atau BRA Day dicetuskan untuk membantu perempuan memahami lebih dalam tentang rekonstruksi payudara setelah mastektomi dan kehidupan yang dijalani setelah mengalami kanker payudara.

Saat itu, acara-acara yang digelar BRA Day di Kanada menghadirkan forum pertemuan antara pasien, penyintas dan perempuan yang berisiko terkena kanker payudara dengan para dokter bedah rekonstruksi dan pasien yang pernah melakukan rekonstruksi.

Dilansir dari The Sun pada Selasa, saat itu gerakan tersebut ramai dibicarakan di media sosial dan para warganet menggunakan tagar #nobraday.

Ilustrasi kanker payudara
Ilustrasi kanker payudara

Banyak yang ikut berpartisipasi dengan mengunggah foto tanpa bra di media sosial.

Bukan cuma mendorong perempuan untuk menikmati hari tanpa bra, tujuannya adalah menggalakkan kesadaran dan mendorong perempuan untuk aktif memeriksa payudaranya sendiri, memastikan mereka tahu apa saja ciri-ciri kanker payudara.

Dokter spesialis bedah onkologi di RSPUN dr. Cipto Mangunkusumo, Sonar Soni Panigoro mengatakan tak hanya gen yang bisa menyebabkan seseorang terkena kanker payudara, tetapi juga faktor lingkungan dan ini berkontribusi sebesar 95 persen pada kejadian kanker.

Bra mahal buat lap. (Dok: Instagram/mrhinchhome)
Bra mahal buat lap. (Dok: Instagram/mrhinchhome)

Sebesar 30-35 persen di antaranya akibat diet tak sehat, laku 10-20 persen karena obesitas, 15-20 persen akibat infeksi, 25-30 persen karena rokok dan 4-6 persen akibat minuman beralkohol. Sementara sisanya, 10-15 persen karena faktor lainnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait