Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jawaban Shandy Aulia Soal Gaya Asuhnya yang Kontroversial

Vania Rossa | Dinda Rachmawati Selasa, 17 November 2020 | 15:33 WIB

Jawaban Shandy Aulia Soal Gaya Asuhnya yang Kontroversial
Shandy Aulia dan Baby Claire. (Instagram/@shandyaulia)

Shandy Aulia diketahui kerap menerapkan gaya asuh yang kontroversial. Soal itu, ia memberi alasannya.

SuaraBali.id - Setelah memiliki anak, Shandy Aulia kerap menuai kritik karena gaya asuh yang diterapkannya dinilai tidak umum. Salah satunya saat pemeran Tita dalam film 'Eiffel I'm in Love' tersebut pernah memberikan madu saat usia sang putri, Claire Herbowo, masih berusia 4 bulan.

Di usia bayinya 7 bulan, Shandy juga pernah memberikan durian dan kerap mengajarkan sang anak untuk berjalan dan berdiri di usianya yang masih cukup kecil.

Tindakan-tindakan tersebut sontak menimbulkan kehebohan warganet, sebab dinilai berbahaya. Menanggapi hal tersebut, perempuan berusia 33 tahun itu tetap santai dengan komentar yang ia terima.

Dalam video di kanal YouTube The Hermansyah A6, istri David Herbowo ini mengungkapkan alasan mengapa ia melakukan hal-hal yang tak umum dilakukan oleh ibu-ibu lain di Indonesia.

"Sebenarnya parenting tuh kan nggak ada sekolahnya ya, jadi kita nggak bisa menyamakan satu frekuensi cara parenting. Sebenarnya untuk masalah parenting, aku juga bisa explain, karena ini menjadi keyakinan aku, the best for my baby gitu," kata dia pada Ashanty dan Aurel saat ketiganya tengah bersama di sebuah hotel di Bali.

Bukan tanpa alasan, kata Shandy, semua yang ia lakukan untuk Claire, tentu saja sudah terlebih dahulu dikonsultasikan oleh ahli, dalam hal ini ialah dokter anak yang ia percaya.

"Kalau kita konsul sama dokter ya, aku setuju banget ada dokter yang bilang, 'Yang paling tahu tentang anak kita adalah ibunya sendiri', kalau kita benar-benar spend time with our daughter or our son gitu," jelasnya lagi.

Bungsu empat bersaudara ini juga mengatakan, jika ia mengetahui pasti kemampuan dan batasan yang dimiliki oleh sang anak, sehingga semuanya berjalan senatural mungkin.

Hanya saja, kata Shandy, terkadang beberapa hal bentrok dengan budaya pengasuhan di Indonesia yang lebih sering menelan informasi dan mitos secara bulat, tanpa diobservasi terlebih dahulu.

"Kita kan lebih kepada apa yang dikasih tahu ditelan bulet-bulet gitu. Nah, kalau aku kan, aku observasi dulu. Bukan nggak peduli omongan orang, tapi I know yang baik untuk Claire gitu," ujarnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait